Jelang Muktamar ke-35, Sikap Elite PBNU Dinilai Kian Pragmatis


  • 52 
  • Tuesday, 25 August 2026 
  • Fajar

Jelang Muktamar ke-35, Sikap Elite PBNU Dinilai Kian Pragmatis

Sikap elite Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 2026 mendapat sorotan. Anggota MPO PB IKA PMII Idrus Marham menilai sejumlah petinggi organisasi menunjukkan sikap pragmatis melebihi politisi menjelang pemilihan ketua umum.

Muktamar ke-35 PBNU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Idrus bahkan menilai sikap politik sejumlah elite PBNU saat ini telah melampaui perilaku politisi.

"Akhir-akhir ini kita lihat pengurus NU secara personal itu sikap perilakunya melebihi sikap politik dari orang partai itu sendiri gitu loh," ujar Idrus dalam peluncuran buku tentang PBNU di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Menurut Idrus, dinamika menjelang Muktamar ke-35 2026 nantinya akan sangat ditentukan oleh para pengurus NU di tingkat wilayah dan cabang. "Nah, ini yang saya kira semua itu nanti akan kita lihat. Ini hanya bisa dilakukan kembali kepada penentu. Siapa penentu? Itu adalah pengurus wilayah, pengurus cabang," lanjutnya.

Idrus berharap kepengurusan PBNU periode 2026-2031 diisi lebih banyak sosok yang memiliki semangat tajdidiyah atau pembaruan. Ia menginginkan pendekatan pembaruan lebih dominan dibandingkan kelompok yang disebutnya berorientasi ashabiyah dan wasatiah.

Menurut Idrus, semangat pembaruan diperlukan agar PBNU mampu menghasilkan gagasan-gagasan inovatif yang relevan dengan tantangan masa depan. "Lahirlah pemikiran-pemikiran inovatif yang menjadi dasar untuk melakukan peran dalam rangka menentukan pembentukan peradaban ke depan. Saya kira ini yang diinginkan," katanya.

Ia menilai Muktamar ke-35 2026 menjadi momentum penting bagi para pengurus wilayah dan cabang untuk menentukan arah organisasi dalam lima tahun mendatang.

Sementara itu, eks Ketua PBNU Andi Jamaro Dulung juga mendorong adanya perubahan besar dalam jajaran kepengurusan PBNU melalui Muktamar ke-35 2026. Andi berharap peserta muktamar memberikan kesempatan kepada jajaran pengurus lama untuk tidak lagi menduduki posisi fungsionaris PBNU periode berikutnya.

"Harapan saya kepada muktamirin agar memberi kesempatan kepada pengurus lama mulai dari rais aam, ketua umum, sekjen untuk beristirahat, agar tidak kita gunakan lagi, tidak dipilih lagi untuk menjadi fungsionaris PBNU yang akan datang," katanya.

Pernyataan tersebut menambah sorotan terhadap dinamika internal PBNU menjelang Muktamar ke-35 2026. Forum tersebut akan menjadi momentum bagi para peserta untuk menentukan susunan kepengurusan sekaligus arah organisasi PBNU periode 2026-2031.

Sumber: beritasatu.com