Loading
Perdebatan mengenai gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus berkembang di ruang publik. Salah satunya muncul melalui pelabelan bahwa Prabowo memiliki Narcissistic Personality Disorder (NPD) dan terlalu militeristik. Namun, apakah label tersebut benar-benar menjadi ukuran yang tepat untuk menilai seorang pemimpin?
NPD merupakan istilah klinis yang berkaitan dengan kondisi kesehatan mental. Karena itu, memberikan diagnosis kepada seseorang hanya berdasarkan pidato, gaya komunikasi, ekspresi, atau potongan video di media sosial tentu tidak cukup untuk menarik kesimpulan klinis.
Sementara itu, latar belakang Prabowo sebagai mantan perwira TNI merupakan fakta yang tidak perlu diperdebatkan. Namun, memiliki pengalaman di dunia militer tidak otomatis berarti pemerintahan yang dipimpinnya berjalan secara militeristik.
Dalam sistem demokrasi, penilaian terhadap seorang presiden semestinya dapat dilihat dari bagaimana kekuasaan dijalankan melalui institusi negara, bagaimana kebijakan dibuat, serta sejauh mana pemerintahan tetap berpijak pada hukum dan konstitusi.
Prabowo sendiri berulang kali menempatkan UUD 1945 dan kepentingan nasional sebagai landasan dalam menjalankan pemerintahan. Pada saat yang sama, pemerintah tetap berhadapan dengan mekanisme pengawasan dari lembaga negara, parlemen, media, akademisi, dan masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa ketegasan dalam gaya kepemimpinan tidak serta-merta dapat disamakan dengan militerisme. Begitu pula gaya komunikasi yang kuat tidak dapat menjadi dasar untuk memberikan diagnosis psikologis.
Kritik terhadap pemerintah tentu merupakan bagian penting dalam demokrasi. Pemerintah pun perlu terus diuji melalui kebijakan dan hasil kerjanya. Namun, kritik akan lebih bermakna apabila didasarkan pada data dan fakta, bukan sekadar label yang terus diulang hingga seolah-olah menjadi kebenaran.
Pada akhirnya, masyarakat tidak perlu memilih antara “mendukung” atau “membenci” seorang pemimpin hanya berdasarkan karakter yang ditampilkan di ruang publik. Cara yang lebih objektif adalah melihat apa yang dikerjakan pemerintah, bagaimana kebijakan tersebut dijalankan, serta manfaat dan dampaknya bagi masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi, menilai pemimpin dengan fakta jauh lebih penting daripada sekadar mempercayai label.