Pendangkalan Krueng Meureudu Disorot, Gerakan Hijau Tanam 3.000 Bibit Pohon



Pendangkalan Krueng Meureudu Disorot, Gerakan Hijau Tanam 3.000 Bibit Pohon

PIDIE JAYA – Sejumlah organisasi lingkungan dan kepemudaan di Kabupaten Pidie Jaya mengonsolidasikan kekuatan untuk mendukung pemulihan ekologis pascabencana hidrometeorologi. Gerakan tersebut diwujudkan melalui aksi penghijauan dengan menanam 3.000 bibit pohon di kawasan sekitar Krueng Meureudu, 15–16 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat sipil, di antaranya LandCab Aceh RESCUE, DCAB Aceh, Satgas SAR Pidie, Kopala Pidie, CV Flora Nursery Pidie, KNPI Pidie Jaya, FAJI Pidie Jaya, PMII Pidie Jaya, PMI Pidie Jaya, Aceh Green dan Pramuka Pidie Jaya.

Anggota LandCab Aceh RESCUE, Khairil Razali, MA, mengatakan gerakan penghijauan tersebut merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam membantu proses rehabilitasi lingkungan yang terdampak bencana.
Menurutnya, penanaman pohon tidak sekadar kegiatan seremonial, tetapi diarahkan sebagai langkah jangka panjang untuk memperkuat kondisi ekologis kawasan bantaran sungai, khususnya dalam menjaga tutupan vegetasi, mengurangi potensi erosi dan menekan sedimentasi.

Penanaman dilakukan di enam gampong di Kecamatan Meurah Dua yang berada di sekitar kawasan Krueng Meureudu. Pemilihan kawasan tersebut menjadi perhatian karena kondisi sungai pascabencana mengalami pendangkalan akibat timbunan lumpur dan material yang terbawa arus.

Pendangkalan tersebut tidak hanya berdampak terhadap kondisi lingkungan, tetapi turut mempengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat, terutama nelayan yang bergantung pada akses sungai dan kawasan muara untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, gerakan penghijauan dipandang sebagai upaya melengkapi penanganan fisik yang saat ini dilakukan pemerintah. Penanaman vegetasi pada kawasan yang tepat diharapkan dapat membantu memperkuat struktur tanah dan mengurangi material tanah yang terbawa menuju badan sungai.
Sementara itu, Pemkab Pidie Jaya bersama BWS Sumatera I saat ini juga melakukan upaya normalisasi muara Krueng Meureudu sepanjang kurang lebih 500 meter, dengan target kedalaman sekitar 4 meter.

Progres pekerjaan normalisasi tersebut dilaporkan telah mencapai sekitar 35–40 persen. Dari sisi pembiayaan, total anggaran yang disiapkan mencapai sekitar Rp87 miliar, terdiri atas dukungan awal Kementerian Pekerjaan Umum sekitar Rp37 miliar serta rencana tambahan anggaran sekitar Rp50 miliar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan Krueng Meureudu membutuhkan penanganan yang tidak hanya berorientasi pada pengerukan atau normalisasi fisik, tetapi juga penguatan ekosistem di kawasan hulu dan bantaran sungai.

Khairil Razali menilai penanaman pohon dapat menjadi langkah preventif jangka panjang untuk mendukung hasil normalisasi. Jika vegetasi di kawasan rawan erosi dapat dipertahankan dan diperkuat, jumlah material tanah yang masuk ke badan sungai berpotensi ditekan sehingga fungsi sungai dapat dipertahankan lebih lama.

Gerakan tersebut sekaligus memperlihatkan meningkatnya keterlibatan organisasi lingkungan dan kepemudaan dalam agenda pemulihan Pidie Jaya pascabencana. Keterlibatan masyarakat sipil dinilai penting karena pemulihan lingkungan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi masyarakat secara berkelanjutan.

Dengan penanaman 3.000 bibit pohon, gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi dilanjutkan dengan pemeliharaan dan pengawasan agar bibit yang ditanam benar-benar tumbuh dan memberikan manfaat ekologis.

Konsolidasi organisasi lingkungan dan kepemudaan tersebut merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam mendukung pemulihan ekologis Pidie Jaya, khususnya di kawasan bantaran Krueng Meureudu. Selain memperkuat tutupan vegetasi, kegiatan ini menjadi langkah preventif untuk mengurangi erosi, menekan sedimentasi dan mencegah semakin meluasnya kerusakan bantaran sungai pascabencana.