Transformasi BUMN Berlanjut, Danantara Bidik Laba Rp360 Triliun pada 2026



Transformasi BUMN Berlanjut, Danantara Bidik Laba Rp360 Triliun pada 2026

Danantara Indonesia terus memperkuat fondasi pengelolaan perusahaan negara melalui konsolidasi, perbaikan tata kelola, dan peningkatan kinerja operasional BUMN. Pada Senin, 24 Agustus 2026, Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria menyampaikan bahwa laba perusahaan dalam ekosistem Danantara telah mencapai sekitar Rp330 triliun dan ditargetkan meningkat menjadi Rp360 triliun pada 2026. Angka tersebut menunjukkan besarnya kapasitas ekonomi portofolio BUMN yang kini dikelola secara lebih terintegrasi.

Penguatan kinerja itu berjalan bersamaan dengan transformasi struktur perusahaan. Per 31 Juli 2026, Dony menyebut sebanyak 274 perusahaan telah ditata melalui program streamlining. Pemerintah dan Danantara menargetkan struktur BUMN yang lebih ramping hingga menjadi sekitar 250 perusahaan sehingga pengelolaan modal, aset, dan operasional dapat lebih fokus. Salah satu perkembangan yang disampaikan adalah Pupuk Indonesia yang membukukan laba Rp6,1 triliun dalam enam bulan pertama 2026, disertai peningkatan kapasitas produksi dan ekspansi pasar ekspor.

Pada saat yang sama, Danantara tengah menyelesaikan laporan keuangan konsolidasi pertamanya. Dony menjelaskan pada 5 Agustus 2026 bahwa proses tersebut mencakup lebih dari 1.000 perusahaan dan membutuhkan eliminasi transaksi antarentitas agar tidak terjadi pencatatan ganda. Laporan itu ditargetkan tuntas dalam satu hingga dua bulan dan, menurut Dony, akan diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Sebelumnya, Danantara juga menegaskan pada 12 Mei 2026 bahwa konsolidasi, harmonisasi pelaporan, dan proses audit dilakukan sesuai kerangka hukum yang berlaku.

Tahap konsolidasi ini penting karena ukuran kinerja lembaga investasi negara tidak hanya ditentukan oleh besarnya laba, tetapi juga oleh konsistensi standar akuntansi, cakupan perusahaan yang dikonsolidasikan, kualitas aset, dan periode pelaporan. Sebagai pembanding internasional, laporan resmi Temasek untuk tahun buku yang berakhir 31 Maret 2026 mencatat group net profit sebesar S$32,4 miliar. Perbedaan periode dan struktur konsolidasi membuat perbandingan antarlembaga perlu menggunakan basis yang setara agar memberikan gambaran kinerja yang akurat.

Dengan demikian, perkembangan Danantara pada 2026 tidak berhenti pada besarnya angka laba. Penyederhanaan struktur BUMN, penataan laporan keuangan, audit, serta peningkatan efisiensi menjadi bagian dari proses membangun pengelolaan aset negara yang lebih terukur. Publikasi laporan konsolidasi nantinya akan menjadi tonggak penting untuk memperlihatkan secara lebih lengkap kapasitas finansial sekaligus kualitas tata kelola Danantara sebagai pengelola portofolio BUMN Indonesia.