Loading
SORONG, PAPUA BARAT DAYA — Pelaksanaan PAPEDA Summit 2026 di Vega Hotel, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (4/9/2026), berakhir dalam situasi yang berbeda dari rencana awal. Rangkaian kegiatan ditutup tanpa seremoni setelah aksi Front Rakyat Domberai Tolak PSN dan Militerisme berlangsung di sekitar lokasi.
Massa mendatangi kawasan Vega Hotel dan menyampaikan penolakan terhadap pelaksanaan PAPEDA Summit. Sejumlah isu menjadi sorotan dalam aksi tersebut, mulai dari Proyek Strategis Nasional (PSN), perlindungan tanah adat dan ruang hidup masyarakat hingga persoalan militerisme di Tanah Papua.
Aksi tersebut berlangsung ketika agenda diskusi PAPEDA Summit masih berjalan di dalam hotel.
Sekitar pukul 11.00 WIT, jalannya diskusi dan penyampaian materi dihentikan. Ketua Panitia PAPEDA Summit 2026 kemudian menginstruksikan forum untuk menghentikan kegiatan.
Situasi tersebut membuat rangkaian acara yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung hingga agenda penutupan mengalami perubahan.
Ditutup Tanpa Seremoni
Informasi terbaru disampaikan Julian Kelly Kambu, selaku Ketua Panitia PAPEDA Summit 2026, pada Jumat sekitar pukul 11.30–11.45 WIT di Vega Hotel.
Menurut Julian, rangkaian PAPEDA Summit telah memasuki tahap akhir. Namun, penutupan tidak dilakukan melalui seremoni sebagaimana jadwal yang telah ditentukan.
Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi di lokasi yang dinilai tidak kondusif serta kekhawatiran terhadap keamanan dan kenyamanan peserta.
Dengan pertimbangan tersebut, panitia memilih mengakhiri rangkaian kegiatan tanpa menggelar seremoni penutupan.
Julian menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung pelaksanaan PAPEDA Summit 2026. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada peserta dan pihak terkait karena rangkaian kegiatan tidak dapat berjalan sepenuhnya sesuai jadwal.
Ketika Forum Papua Berhadapan dengan Suara Penolakan
Berakhirnya PAPEDA Summit tanpa seremoni menjadi bagian penting dari dinamika pelaksanaan forum tersebut di Sorong.
Di satu sisi, PAPEDA Summit menjadi ruang pertemuan untuk membicarakan berbagai persoalan dan agenda pembangunan Papua. Namun di luar ruang forum, sekelompok masyarakat justru menyampaikan penolakan terhadap sejumlah kebijakan yang mereka nilai berpotensi berdampak terhadap kehidupan masyarakat Papua.
Bagi Front Rakyat Domberai, pembicaraan mengenai masa depan Papua tidak cukup hanya dilakukan di dalam ruang konferensi. Mereka menuntut agar suara masyarakat, terutama yang berkaitan dengan tanah adat, lingkungan dan ruang hidup, turut mendapat tempat dalam pembahasan mengenai arah pembangunan Papua.
Pesan yang dibawa massa juga jelas: masyarakat Papua ingin didengar ketika kebijakan mengenai Papua dibicarakan.
Aparat Amankan Lokasi
Di tengah berlangsungnya aksi, aparat keamanan terlihat melakukan penjagaan di sekitar Vega Hotel. Pengamanan dilakukan untuk menjaga situasi tetap terkendali sekaligus memastikan aktivitas di sekitar lokasi dapat berlangsung tanpa gangguan lebih lanjut.
Tidak ada keterangan mengenai terjadinya bentrokan dalam informasi yang diperoleh hingga penutupan kegiatan.
Keputusan panitia menghilangkan seremoni penutupan menunjukkan bahwa faktor keamanan akhirnya menjadi pertimbangan utama dibandingkan mempertahankan agenda seremoni sesuai jadwal.
PAPEDA Summit 2026 pun akhirnya ditutup tanpa panggung seremoni.
Namun, persoalan yang disuarakan massa di luar hotel belum berhenti. Kritik mengenai PSN, tanah adat, ruang hidup, lingkungan dan militerisme masih menjadi pekerjaan besar dalam perdebatan mengenai masa depan Papua.