Loading
Perdebatan mengenai tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo Subianto kembali ramai di media sosial pada September 2026 setelah beredar polling Instagram yang diikuti sekitar 175 ribu akun dan menghasilkan angka 98 persen tidak puas. Polling tersebut nyata sebagai ekspresi peserta yang ikut memberikan suara, tetapi sumber yang memuatnya juga menyebutnya sebagai “polling sederhana” Instagram, bukan survei ilmiah dengan metode sampling yang dirancang untuk mewakili penduduk Indonesia. Karena itu, angka 98 persen tidak dapat langsung dibaca sebagai persentase seluruh masyarakat Indonesia.
Gambaran dari survei nasional menunjukkan hasil yang jauh lebih beragam. Survei Poltracking Indonesia yang dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 1.220 responden pada 14 sampai 20 Agustus 2026 mencatat 55,1 persen responden puas terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran dan 63,2 persen menyatakan percaya. Poltracking menggunakan stratified multistage random sampling di 38 provinsi dengan margin of error sekitar 2,9 persen.
Arus Survei Indonesia juga melaporkan pada 6 September 2026 bahwa 57,6 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Prabowo, sedangkan 40,6 persen tidak puas. Direktur Eksekutif ASI Ali Rif’an menyampaikan bahwa tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran mencapai 61,4 persen. Survei tersebut dilakukan pada 23 sampai 29 Juli terhadap 1.200 responden di 38 provinsi menggunakan multistage random sampling dengan margin of error sekitar 2,9 persen.
Secara keseluruhan, hasil survei nasional menunjukkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan tidak dapat direpresentasikan oleh angka 98 persen tidak puas dari polling media sosial. Poltracking pada Agustus 2026 mencatat 55,1 persen responden puas terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran, sedangkan Arus Survei Indonesia mencatat 57,6 persen responden puas terhadap kinerja Presiden Prabowo. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dalam dua survei nasional tersebut, kelompok masyarakat yang menyatakan puas masih berada di atas separuh responden, meski tetap terdapat ketidakpuasan yang perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah. Dengan demikian, kondisi opini publik saat ini lebih tepat dibaca sebagai kepuasan yang masih bertahan di tengah tuntutan masyarakat agar kinerja pemerintah terus diperbaiki, terutama pada sektor-sektor yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari.