Langkah Diplomasi Prabowo di Panggung Dunia



Langkah Diplomasi Prabowo di Panggung Dunia

September 2026 menjadi bulan yang cukup padat dalam agenda luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Dalam rentang kurang dari dua pekan, Presiden menghadiri dua forum internasional besar di Rusia dan India dengan agenda yang berbeda, mulai dari perdagangan, investasi, konektivitas hingga pembahasan tata kelola ekonomi global.

Pada 3 September 2026, Presiden Prabowo menghadiri Eastern Economic Forum ke-11 di Vladivostok, Rusia. Prabowo datang sebagai tamu kehormatan utama atas undangan Presiden Rusia Vladimir Putin. Forum tersebut mempertemukan pejabat pemerintah, pelaku usaha, serta delegasi dari sejumlah negara untuk membahas pembangunan ekonomi kawasan Timur Jauh dan kerja sama internasional.

Dalam pidatonya, Prabowo membawa beberapa isu yang berkaitan langsung dengan kepentingan ekonomi Indonesia. Bidang yang dibahas antara lain pangan, energi, logistik, perdagangan, sains serta sistem pembayaran internasional. Presiden juga menekankan pentingnya menjaga jalur kerja sama antarnegara di tengah perubahan rantai pasok dan meningkatnya fragmentasi ekonomi global.

Agenda di Rusia tidak berhenti pada forum. Prabowo juga melakukan pertemuan bilateral dengan Vladimir Putin dalam format working lunch. Dalam pertemuan tersebut, Putin menyebut Indonesia sebagai salah satu mitra kunci Rusia di kawasan Asia Pasifik. Menurut Putin, nilai perdagangan kedua negara pada tahun sebelumnya meningkat sekitar 12 persen.

Indonesia juga mendorong peningkatan konektivitas langsung dengan Rusia. Salah satu yang dibicarakan adalah peluang membuka dan memperkuat jalur pelayaran serta penerbangan langsung sehingga hubungan ekonomi kedua negara tidak hanya bergantung pada pertemuan antarpemerintah, tetapi juga dapat ditopang oleh konektivitas perdagangan dan mobilitas yang lebih mudah.

Sekitar satu pekan kemudian, agenda diplomasi berlanjut ke New Delhi, India. Presiden Prabowo menghadiri KTT BRICS ke-18 pada 12–13 September 2026. Indonesia hadir sebagai anggota penuh BRICS, dengan pembahasan yang mencakup pangan, energi, perdagangan, pembiayaan pembangunan, ketahanan ekonomi dan kerja sama antarnegara berkembang.

Dalam sesi terbatas bertema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism, Prabowo menyampaikan pandangan Indonesia mengenai pentingnya tata kelola global yang lebih inklusif serta kemampuan negara berkembang untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian masing-masing.

Pembahasan dilanjutkan pada hari kedua dengan tema Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability. Isu yang dibawa mencakup bagaimana ketahanan ekonomi, inovasi dan kerja sama dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang lebih inklusif dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

KTT tersebut kemudian menghasilkan Deklarasi New Delhi, dokumen bersama negara-negara BRICS yang menjadi arah kerja sama lanjutan dalam berbagai isu ekonomi dan tata kelola global.

Dua perjalanan ini menunjukkan karakter agenda luar negeri Indonesia yang berjalan melalui dua jalur sekaligus. Di Vladivostok, pembahasannya lebih banyak menyentuh hubungan bilateral, perdagangan, investasi dan konektivitas dengan Rusia. Sementara di New Delhi, Indonesia terlibat dalam forum multilateral yang membicarakan posisi negara-negara berkembang dalam ekonomi dan tata kelola global.

Nilai akhir dari diplomasi tersebut tentu tetap bergantung pada tindak lanjut setelah pertemuan selesai. Realisasi investasi, peningkatan perdagangan, konektivitas baru serta kerja sama yang benar-benar berjalan akan menjadi ukuran konkret dari hasil perjalanan diplomatik tersebut.