Rumah Persemaian Bina Brawijaya Diresmikan di Klawosom, Dorong Penguatan Agroforestri Masyarakat


  • 13 
  • Monday, 21 September 2026 
  • Bara

Rumah Persemaian Bina Brawijaya Diresmikan di Klawosom, Dorong Penguatan Agroforestri Masyarakat

SORONG, Papua Barat Daya — Rumah Persemaian Tangguh Iklim “Bina Brawijaya” resmi diresmikan di Kampung Persiapan Klawosom, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (19/9/2026). Fasilitas yang diinisiasi Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 4 ini menjadi langkah awal penguatan sistem agroforestri sekaligus peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola lahan secara produktif dan berkelanjutan.


Peresmian rumah persemaian tersebut merupakan bagian dari program pendampingan masyarakat di Kawasan Transmigrasi Klamono-Segun melalui kolaborasi Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia dan Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRPM) Universitas Brawijaya.


TEP 4 mengusung tema “Penguatan dan Pendampingan Sistem Agroforestri Intensif Kelompok Tani untuk Meningkatkan Ekonomi Masyarakat di Kawasan Transmigrasi Klamono-Segun.”


Rumah persemaian menjadi salah satu fasilitas pendukung program tersebut. Keberadaannya diarahkan untuk menyediakan bibit tanaman lokal unggul sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat dalam mengembangkan pembibitan dan pengelolaan lahan.


Dihadiri pemerintah dan kelompok tani


Sekitar 45 peserta menghadiri peresmian Rumah Persemaian Tangguh Iklim “Bina Brawijaya”. Peserta terdiri dari unsur pemerintah daerah, pemerintahan distrik, Tim Ekspedisi Patriot, kelompok tani, serta masyarakat Kampung Persiapan Klawosom.


Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Sumber Daya Mineral (Disnakertrans ESDM) Provinsi Papua Barat Daya Suroso, S.IP., M.A.; Kepala Bidang Transmigrasi Disnakertrans ESDM Provinsi Papua Barat Daya Ronald Yunus Noya, S.Si.; Penelaah Teknis dan Kebijakan Bidang Transmigrasi Kabupaten Sorong; serta Kepala Distrik Klamono Oktofianus Kolin, S.Pd., M.M.


Peresmian ditandai dengan penandatanganan plakat oleh Suroso, didampingi jajaran Pemerintahan Distrik Klamono dan Ketua TEP 4.


Kebutuhan masyarakat menjadi bagian perencanaan


Pengembangan agroforestri di Klawosom turut melibatkan masyarakat melalui Focus Group Discussion (FGD).


Dalam forum tersebut, kelompok tani Kuk Mala Fai Tunas Muda, Olom Fagu, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Sinagi menyampaikan kondisi, kebutuhan, serta harapan mereka terkait pengembangan pertanian dan pengelolaan lahan.


Keterlibatan kelompok tani dilakukan untuk memastikan program pendampingan dapat disesuaikan dengan pengalaman dan kebutuhan masyarakat setempat.


Dengan pendekatan tersebut, rumah persemaian tidak hanya diposisikan sebagai tempat penyediaan bibit, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembelajaran dan penguatan kapasitas masyarakat.


Diharapkan menjadi pusat pembelajaran agroforestri


Ketua Tim Ekspedisi Patriot 4, Syamsul Arifin, S.P., M.Si., menyampaikan bahwa rumah persemaian merupakan langkah awal untuk membangun sistem agroforestri yang dapat dikembangkan bersama masyarakat.


Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola sumber daya lahan.


Penyebutan “Tangguh Iklim” pada rumah persemaian juga mencerminkan arah pengembangan pertanian yang ingin dibangun. Penyediaan bibit dan sistem agroforestri diharapkan mendukung pola pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan dan perubahan lingkungan.


Pengembangan beragam jenis tanaman juga diharapkan dapat membantu menjaga fungsi lahan dan mendukung pemanfaatannya secara berkelanjutan.


Dari bibit menuju kemandirian masyarakat


Bagi masyarakat Kampung Persiapan Klawosom, kehadiran Rumah Persemaian Tangguh Iklim “Bina Brawijaya” diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan bibit secara lebih mandiri.


Fasilitas ini sekaligus menjadi titik awal pengembangan Sistem Agroforestri Intensif di Klawosom, dengan melibatkan kelompok tani, pemerintah, dan pendampingan Tim Ekspedisi Patriot.


Keberlanjutan fasilitas tersebut menjadi bagian penting dari program. Setelah rangkaian ekspedisi berakhir, rumah persemaian diharapkan tetap dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat.


Dengan demikian, rumah persemaian yang diresmikan di Klawosom bukan hanya menjadi tempat menumbuhkan bibit tanaman, tetapi juga diharapkan menjadi ruang untuk menumbuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian masyarakat dalam mengelola lahan secara lebih produktif dan berkelanjutan.